Seminar "Kebijakan Bahasa Pasca Orba : Sebuah Penguatan Identitas" diadakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tanggal 4-5 Agustus 2015. Saat itu saya mendapat tugas sebagai penerima tamu selama dua hari. Tetapi saya juga mengikuti seminarnya karena tidak mau ketinggalan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Saat itu saya senang sekali karena mendapatkan kesempatan bertemu dengan banyak orang yang pastinya pada pinter2 dan terkenal hehhehe. Secara garis besar isi dari seminar tersebut adalah sebagai berikut :
"Bahasa merupakan wujud identitas kedaerahan. Akan tetapi banyak kalanya bahasa daerah justru dianggap sebagai bahasa orang tua dengan kesan kuno yang melekat sangat dominan di dalamnya. Sebagai contoh di Halmahera Utara yang memiliki bahasa daerah yaitu bahasa pagu dengan jumlah penutur hanya sekitar 3000 orang dengan usia termuda penutur adalah 40 tahun. Hal tersebut mengakibatkan dalam jangka waktu kurang dari 20 tahun ke depan bahasa pagu akan punah.
Contoh ke dua juga terjadi di Kecamatan Bau-bau dengan bahasa Cia-cia yang justru menggunakan huruf-huruf korea dan mengatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang korea. Hal tersebut mengingatkan saya pada pada negara Timor Leste yang dulu ketika masih tergabung dalam NKRI justru menggunakan bahasa portugis sebagai bahasa sehari-hari yang terbukti sekarang pun telah melakukan pemekaran wilayah dari NKRI.
Contoh-contoh tersebut menandakan bahwa bahasa merupakan salah satu elemen penting bagi integrasi bangsa. Oleh karenanya pelestarian bahasa-bahasa daerah memang harus segera dilakukan.
Peneliti sebagai pihak luar pastinya sangat kewalahan ketika harus melakukan penyadaran kepada masyarakat lokal akan pentingnya berbahasa daerah. Untuk itu diperlukan seseorang tokoh masyarakat yang mempunyai keperdulian tinggi terhadap pelestarian bahasa daerah. Pemerintah di satu sisi juga harusnya mendukung tingkat pemertahanan bahasa daerah dengan memasukkan bahasa daerah ke dalam muatan lokal dan bekerja sama dengan para peneliti untuk melakukan penyususnan bahan ajar bahasa daerah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal".
Seminar tersebut semakin membukakan mata saya bahwa indonesia menyimpan begitu banyak kekayaan budaya yang tidak ketahui. Kekayaan budaya yang semakin tergeser dengan adanya modernisasi yang semakin merajarela di kalangan muda. Dengan adanya seminar-seminar tersebut semakin membuat saya berfikir bahwa pelestarian bahasa lokal itu penting, salah satu upaya yang dapat kita lakukan sebagai kawula muda adalah dengan sering menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehai-hari.
see next time for my internship story yaaa....... :)
see next time for my internship story yaaa....... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar